MISSION SOTOABLE: JOGJA

 

Judulnya emang ngeselin. Dicocok-cocokin dengan kisah film/ serial Mission Impossible.

Mangsutnya sih untuk menggambarkan bahwa saya dan istri tahun ini punya misi khusus: memperkenalkan makanan indonesia lebih banyak kepada anak-anak kami. 

Ya ya ya. Misi yang terdengar sepele tapi penting. Cukup sudah (bukan lagu Glenn) anak-anak saya sering mengkonsumsi pizza, spaghetti, burger, chicken wings...sudah sudah..kok iler jadi netes sendiri. Ya pokoknya yang dari benua bule itu lah. eh dari negara jepang juga. Sushi maksudnya. 

Anak-anak sudah mulai besar dan kami merencanakan untuk banyak travelling dan staycation. Kuliner sudah PASTI masuk dalam itenerary kami (yang tau saya pasti senyum setuju). Lalu gimana mau kulineran kalau anak-anak cuma doyan makanan yang itu-itu aja dan gak mau nyoba. Terutama nyobain makanan lokal. Gak lucu kan kalau kita lagi di Toraja dan mereka cuma minta makan pizza. Atau lagi di pedalaman Kalimantan terus minta spagheti. Saya yakin orangutan setempat gak bisa masak spagheti. 

Dimulai awal tahun ini perjalanan kami ke Jogja. Tempat yang sudah lama saya ingin bawa keluarga saya ke sana. Jogja mah nggilani kulinerannya. Soto, sate, gudeg, pecel, mangut, angkringan, lesehan, jamur-jamuran. Weleh, gak akan ada habisnya. Baeklah, kita mulai dengan soto. 

Akhir bulan Januari saya ada agenda pelatihan 2 hari di Jogja. Begitu pelatihan selesai, supir seorang sahabat sudah menunggu di parkiran. Saya diculik paksa. Eh namanya diculik pasti gak ada yang sukarela ya. Alhasil juga 'terpaksa' nginep di rumahnya.

Paginya saya langsung diajak ke Soto pak Sholeh Al Barokah di jl. HOS Cokroaminoto. Setelah menyantap soto, saya langsung ketik pesan ke istri: wah paru gorengnya di sini enak betul, gak kering seperti keripik paru tapi juga gak terlalu basah. Cocok deh kalau kamu ke sini nanti.

Pengalaman pertama yang tak terlupakan ini yang membuat saya mengajak anak dan istri saya menikmatinya lagi, beberapa hari kemudian setelah mereka datang menyusul ke Jogja.

Sebenarnya bukan soto ini yang kami makan pertama kali dalam trip kami di jogja waktu kemarin. Saya minta ke teman saya merekomendasikan soto lain. Saat kamu coba ternyata beda dengan Soto Pak Sholeh. Saya terlalu naif untuk berpikir semua soto di jogja ini sama aja. Enak juga sih, tapi bukan soto ini yang saya mau perkenalkan ke anak istri. Lalu kami menjadwalkan menyantap soto Pak Sholeh untuk sarapan di hari terakhir kami di Jogja.

Seperti saya bilang, saya dan istri sudah sepakat untuk memperkenalkan makanan lokal ke anak-anak. Soto ini menjadi tepat karena rasanya kok gak mungkin gak disenangi. Walau saya deg-degan juga karena anak-anak saya pemilih sekali. Di awal perjalanan saya sudah bilang bahwa mission kali ini adalah kita akan nyobain seluruh makanan tradisional dan gak ada tuh makanan cepat saji dalam menu kulineri kita.

Ketika kami datang sebenarnya sudah gak terlalu pagi. Karena kami harus swab test dulu di klinik. Kami datang sekitar jam 9 atau anak sekarang bilangnya brunch. Kursi-kursi masih penuh di dalam rumah makan sederhana yang lumayan luas itu. Aroma kuah soto mulai terendus menggugah selera. Dinding rumah makan penuh dengan foto-foto yang sebenarnya kurang saya perhatikan, tapi tampaknya foto pemilik dengan pengunjung-pengunjung pesohor. Di satu dinding lain terpajang berbagai macam kalender dinding yang tampaknya kiriman dari rekan-rekan rumah makan lain. Satu papan besar di dinding yang bertuliskan "SOTO PAK SHOLEH AL BAROKAH, TIDAK BUKA CABANG DI LUAR DIY".

Saat kami duduk tidak ada pelayan yang langsung datang menghampiri. Kami lumayan harus mencari perhatian dan memanggil satu pelayan. Cuma ada satu menu di sini. Soto daging. Sederhana. Tidak ribet. Saya bayangkan tidak begitu banyak juga logistik yang dibutuhkan. Resep pun hanya satu. Quality control lebih mudah. Kami pesan 4 porsi soto. Air liur sudah tak tertahankan lagi karena saya membayangkan lezatnya soto yang saya makan beberapa hari lalu bersama teman saya.

Datanglah pesanan kami. Berikut juga side dish yang menyertainya. Saya penggemar berat dari side dish yang ada di menu pokok. misalnya sate usus dan sate ampela pada bubur ayam. Sate telor puyuh pada soto kudus dan lain sebagainya.

Nah side dish di soto pak Sholeh ini spesial. Coba bayangkan. Paru goreng, tahu tempe goreng, usus & iso goreng, telur asin dan otak goreng. Selain kerupuk juga ada keripik usus ayam. 



Sotopun datang masih berasap-asap tanda baru diseduh dengan kuah. Kuahnya yang bening mempertontonkan sebuah komposisi indah nasi, daging, kecambah, potongan kol, daun bawang. Sendokan pertama terasa rempah dan bumbu yang mengkonfirmasikan bahwa kami sedang berada di Jawa. Di Jogja tepatnya. Lengkapnya budaya mataraman dan pilihan kuliner tak terbatas bersatu di kota ini. Tempat bercampurnya sejarah bangsa, situs-situs kuno dan resep-resep warisan nenek moyang. 

Sendok demi sendok kami nikmati, bersama potongan paru dan usus goreng. Ditambah nikmatnya minuman Sarparila yang khas di kota ini. Tetiba ada komentar dari anak. Jantung ini udah berdetak, takut mereka gak suka dan akhirnya harus repot nyari makanan lain. Ajaibnya, anak-anak pun suka! Yes, mission accomplished.

Pandang-pandangan saya dan istri. Saling memberi kode. ternyata kami memang sehati dan memanggil pelayan untuk tambah satu porsi lagi!

Jogja, Januari 2022

Comments

Popular Posts